AUGUSTE COMTE (1798-1857)

Comte adalah orang pertama yang menggunakan istilah sosiologi (pickering,2003; J. Turner,2001a). Dia mempunyai pengaruh  yang sangat besar kepada teoritis belakangan (khususnya Herbert spencer dan Emile Durkheim). Dia percaya bahwa studi sosiologi harus ilmiah, seperti yang di lakukan oleh banyak teoretisi klasik dan sebagian besar sosiologi kontemporer (lenzer , 1975). Comte sangat terganggu oleh anarki yang meresapi masyarakat perancis dan bersikap kritis terhadap para pemikir yang membaikkan baik pencerahan maupun revolusi prancis. Dia mengembangkan pandangan ilmiahnya, “positivism”, atau “filsafat positif” untuk melawan hal yang di annggapnya sebagai filsafat pencerahan yang negative dan destruktif. Comte sejalan dengan, dan di pengaruhi oleh para katolik kontrarevolusioner (khususnya bonlad dan maistere). Akan tetapi, karyanya dapat di pisahkan dari karya.
Sambil mengakui bahwa comte menciptakan label “sosiologi”. Eriksson (1993) telah menentang ide bahwa comte adalah leluhur dari sosiologi ilmiah modern. Lebih tepatnya, Eriksson melihat orang seperti adam smith, dan secara lebih umum moralis scottis sebagai sumber senjata sosiologi modern. Lihat juga L.HILL (1996). Mengenai pentingnya adam ferguson dan adam smith dan rundell (2001). Mereka setidaknya kerna 2 alasan yaitu:
1.      Dia beranggapan tidak mungkin kembali ke abad pertengahan, kemajuan-kemajuan di bidang ilmu dan industri membuat hal itu mustahil.
2.      Dia mengembangkan suatu sistem teoritis yang jauh lebih canggih daripada pendahuluannya, sistem yang memadai untuk membentuk porsi yang baik sosiologi awal.
Comte mengembangkan fisika sosial, atau apa yang ada 1839 di sebut sosiologi (pickring, 2000) penggunan istilah fisika sosial menjelaskan bahwa comte berusaha memodalkan sosiologi menurut ilmu-ilmu keras. Ilmu yang baru ini, yang menurutnya kelak akan menjadi ilmu yang dominan, berkenan baik dengan statika sosilal (struktur-sruktur soaial yang sudah ada) dan dinamika sosial ( perbahan sosial). Meskipun keduanya sama-sama memuat pencairan hukum-hukum kehidupan sosial, fokus kepada perubahan tu mencerminkan minatnya pada pembaruan sosial, khususnya pembaruan atau atas penyakit penyakit yang di munculkan oleh revolusi perancis dan pencerahan. Comte tidak mendesak perubahan revolusioner, kerna revolusi alamiah masyarakat di anggapya akan membuat hal-hal menjadi lebih baik lagi. Pembaruan-pembaruan di butuhkan hanya untuk membantu sedikit proses itu
Hal ini membawa kita ke fondasi pendekatan comte teorievolusionernya, atau hukum 3 tahap. Teori ini mengusulkan bahwa ada 3 tahap intelektual  yang di lalui di sepanjang sejarah dunia. Menurut comte, bukan dunia saja yang melalui proses tersebut tetapi kelompok, masyarakat, ilmu, individu, dan bahkan pemikiran melalui 3 tahap yaitu:
1.      Tahap teologis yaitu yang menandai dunia sebelum tahun 1300. Selama periode itu, sistem ide utama menekankan kepercayaan bahwa akar segala sesuatu adalah kekuatan-kekuatan supernatural dan tokoh tokoh agamis yang di teladani oleh manusia. Secara khusus, dunia sosial dan fisik di anggap di hasilkan oleh tuhan.
2.      Tahap metafisik yaitu yang terjadi kira-kira 1300 dan 1800. Era itu di tandai oleh kepercayaan bahwa daya-daya abstrak seperti “alam” , bukannya dewa-dewa yang berpribadi, yang menjelaskan hampir segala sesuatu.
3.      Tahap positivistic yang di tandai oleh pada ilmu.
Kini orang cenderung membuang pencairan sebab sebab absolut (tuhan atau alam) dan sebagai gantinya memusatkan perhatian pada dunia sosial dan fisik untuk mencari hukum-hukum yang mengaturnya.
            Jelaslah bahwa di dalam teorinya mengenai dunia, comte berfokus pada faktor-faktor intelektual. Dia berargumen bahwa kekacauan intelektual adalah penyebeb kekacauan sosial. Kekacauan berasal dari sistem-sistem ide yang lebih awal (teologis dan metafisik) yang masih berlanjut ke dalam zaman positivistic (ilmiah). Pergolakan sosial baru akan berhenti bila positifisme telah mendapat kendali total. Karena hal itu merupakan proses evolusioner, pergolakan sosial dan revolusi tidak perlu di munculkan. Positifisme akan dating, meskipun mungkin tidak secepat di harapkan orang. Reformisme sosial comte dan sosiologinya sesuai. Sosilologi dapat mempercepat kedatangan positifisme sehingga membawa keteraturan sosial kepada dunia sosial. Yang teritama, comte tidak ingin tampak mendukung revolusi di dalam pandangannya cukup banyak kekacauan dunia dari sudut pandang comte, yang di butuhkan adalah perubahan intelektual, sehingga ada alasan untuk revolusi sosial dan politis.

Komentar

  1. Artikel ini sangat membantu, semoga makin di kembangkan
    Sukses selalu

    BalasHapus
    Balasan
    1. @Fhernando Padang
      Terimakasih sudah berkunjung..

      Hapus
  2. Wow ... Terima kasih min sudah berbagi ilmunya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lingga Buana
      Terimakasih sudah berkujung keBlog saya.

      Hapus
  3. Sangat bermanfaat. Terima kasih min

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cecillia wee
      Terimakasih Sudah berkunjung keblog saya

      Hapus

Posting Komentar